Senin, 18 Juli 2011

Seranjang dengan Wanita Membuat Pria Kurang Cerdas

Hati-hati, ada bahaya di balik selimut. Tidur seranjang dengan wanita ternyata bisa membuat kemampuan otak pria berkurang. Demikian hasil penelitian terbaru ilmuwan Austria. Peneliti asal Austria mengadakan penelitian tentang kualitas tidur. Para peneliti mengumpulkan 20 pasangan yang belum dikaruniai anak. Ke-20 pasangan ini kemudian diperiksa pola tidurnya.

Masing-masing pasangan diminta untuk tidur 10 hari tanpa pasangan dan 10 hari bersama pasangan mereka. Setiap paginya mereka diberi kuisioner, diperiksa hormon stress, dan menjalani beberapa tes, termasuk tes kognitif ringan.
Nah, hasilnya… walau pria dan wanita sama-sama mengakui lebih nikmat tidur dengan pasangan, pada pria kemampuan otaknya sedikit terganggu. Setelah tidur dengan wanita, pria kurang sukses dalam menjawab tes-tes kognitif ringan. Nilai yang diperoleh menjadi lebih rendah ketimbang ketika tes serupa dilakukan pada saat semalamnya pria tidur tanpa didampingi pasangan mereka. Apakah pasangan tersebut bercinta atau tidak di malam sebelumnya, tak mempengaruhi hasil tes.
Menurut penelitian ini, ketika seorang pria tidur dengan pasangannya, secara tak sadar kualitas tidurnya menjadi terganggu. Hal inilah yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental mereka keesokan harinya.
Tak hanya pria, kualitas tidur wanita juga terganggu ketika tidur bersama pasangannya, namun hasil tes koginitif wanita tetap lebih baik ketimbang rekan lawan jenisnya. Soal kenyamanan, pria dalam penelitian ini mengaku lebih nyaman ketika tidur dengan pasangannya. Sedangkan wanita merasa tidurnya lebih nyenyak ketika ia tidur sendirian.
Setelah tidur sendirian, wanita juga lebih mudah mengingat mimpinya. Berbeda dengan para pria yang ingatannya akan mimpi mencapai tahap paling baik seusai bercinta dengan pasanganya.
“Tidak mengherankan jika seseorang terganggu ketika mereka tidur bersama. Tidur adalah kegiatan paling egois yang bisa dilakukan. Tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental,” jelas Dr Neil Stanley, Ilmuwan dari University of Surrey.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar